Jumat, 29 Oktober 2010

Kisah Burung Rajawali

Tahukah Anda bahwa burung rajawali adalah burung yang paling panjang usianya?
Seekor burung rajawali bisa mencapai umur hingga 70 tahun. Tapi untuk mencapai umur tersebut adalah sebuah pilihan bagi seekor rajawali, apakah dia ingin hidup sampai 70 tahun atau hanya sampai 40 tahun.

Ketika burung rajawali mencapai umur 40 tahun, maka untuk dapat hidup lebih panjang 30 tahun lagi, dia harus melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan. Dan pada saat inilah seekor rajawali harus menentukan pilihan untuk melewati transformasi yang menyakitkan itu atau melewati sisa hidup yang tidak menyakitkan namun singkat menuju kematian.

Pada umur 40 tahun paruh rajawali sudah sangat bengkok dan panjang hingga mencapai lehernya sehingga ia akan kesulitan memakan. Dan cakar-cakarnya juga sudah tidak tajam. Selain itu bulu pada sayapnya sudah sangat tebal sehingga ia sulit untuk dapat terbang tinggi.

Bila seekor rajawali memutuskan untuk melewati transformasi tubuh yang menyakitkan tersebut, maka ia harus terbang mencari pegunungan yang tinggi kemudian membangun sarang di puncak gunung tersebut. Kemudian dia akan mematuk-matuk paruhnya pada bebatuan di gunung sehingga paruhnya lepas. Setelah beberapa lama paruh baru nya akan muncul, dan dengan menggunakan paruhnya yang baru itu ia akan mencabut kukunya satu persatu-satu dan menunggu hingga tumbuh kuku baru yang lebih tajam. Dan ketika kuku-kuku itu telah tumbuh ia akan mencabut bulu sayap nya hingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Dan ketika semua itu sudah dilewati rajawali itu dapat terbang kembali dan menjalani kehidupan normalnya. Begitulah transformasi menyakitkan yang harus dilewati oleh seekor rajawali selama kurang lebih setengah tahun.

Burung rajawali ini ibarat kita sebagai manusia. Ketika sebuah masalah datang dalam kehidupan kita dan kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus diambil, dan sering dari pilihan yang kita ambil tersebut kita harus melewati suatu transformasi kehidupan yang menyakitkan bagi jiwa dan tubuh kita. Namun ditengah kesulitan tersebut kita harus ingat ada Tuhan yang menyertai kita, ada masa depan yang Tuhan sediakan untuk kita diakhir perjuangan kita, suatu kehidupan 30 tahun lebih panjang, suatu kehidupan yang lebih baik, suatu pemulihan hubungan, suatu kesembuhan, suatu sukacita ....., suatu yang saudara impikan selama ini.


Terberkati dengan artikel di atas? Ayo dong bagikan ke teman-teman yang lain biar jadi berkat. Kalo kamu punya facebook / twiter/ email klik pilihan di bawah ini. GBU

Rabu, 15 September 2010

Menyeleksi Ide dan Peluang

main_img 
Menyeleksi Ide dan Peluang

WEDNESDAY, 15 SEPTEMBER 2010

Total View : 131 times


Untuk dapat melesat dari posisi Anda saat ini menuju tangga kesuksesan, Anda harus menjadi orang yang kreatif – penuh dengan ide-ide dan cepat dalam memberikan solusi-solusi bagi permasalah yang ada.
Menyampaikan ide adalah suatu hal yang bagus, namun jangan sebatas ide saja. Anda dituntut untuk dapat menerapkan ide tersebuh hingga terealisasi menjadi sebuah solusi. Tidak peduli seradikal dan sekreatif apapun ide Anda, hal tersebut bukanlah sebuah peluang bagi keberhasilan jika tidak dapat diterapkan dan menjadi sebuah solusi permasalahan.
Jeffry Timmons menjelaskan peluang kesuksesan sebagai berikut, “Suatu peluang memiliki sifat-sifat menarik, tahan lama, dan tepat waktu serta terkait dengan produk atau jasa serta menciptakan atau memberi nilai tambah bagi pembeli atau pengguna akhir”.
Untuk itu Anda harus dapat memilah mana ide yang menghasilkan peluang dan mana yang sekedar ide dan tidak bisa diterapkan. Menyeleksi ide ini sebagai contoh dalam keuangan ada tolak ukur yang bisa digunakan seperti : Berapa banyak laba yang dihasilkan?
Dua hal persyaratan yang harus dipenuhi agar sebuah ide dapat disebut sebagai ide brilian adalah:
  • Mencerminkan visi dan tujuan organisasi
  • Memberi nilai tambah bagi pengguna akhir
Jika sebuah ide atau peluang memenuhi kedua syarat diatas, maka dalam prosesnya ide atau peluang tersebut bisa menjadi sebuah solusi brilian dan Anda bisa meminimalkan resiko. Namun jika Anda memukul rata semua ide atau peluang yang ada, maka hal tersebut sangatlah tidak bijaksana, karena dapat membuat Anda mengalami beberapa kerugian, diantaranya adalah:
  • Kehilangan kredibelitas Anda.
  • Kehilangan waktu dan uang.
  • Kehilangan dukungan.
Resiko kegagalan adalah bagian dari sebuah perjalanan menuju keberhasilan. Namun alangkah baiknya jika hal tersebut dapat diminimalkan. Selamat mewujudkan ide-ide dan peluang menuju kesuksesan Anda.

Source : Entrepreneurial Faith; Kirbyjon Caldwell; HPH

Senin, 13 September 2010

Mengampuni Yang Tak Terampuni

Mengampuni Yang Tak Terampuni 

100% Kisah Nyata | Recharge Your Soul | Daily Devotional | Share Your Story | Teachings | Pray For

detail_img

TUESDAY, 14 SEPTEMBER 2010

Total View : 7008 times

"Keluarga saya pernah bilang, kalau suami sudah mengancam istri dengan senjata tajam, kalau saat ini tidak sampai terluka, suatu saat nanti pasti akan terjadi," kata Rebeka. Dan ternyata ucapan keluarganya itu memang benar terjadi.
Pertemuan Dengan Suami
Rebeka bertemu dengan suaminya yang bernama Tarigan di Pekan Baru. Pada waktu itu Tarigan bekerja sebagai salah seorang karyawan perkebunan. Hampir setiap hari Tarigan mampir ke warung milik saudara Rebeka untuk membeli barang. Rebeka yang pada waktu itu sudah memiliki kekasih hanya memandang Tarigan dengan sebelah mata, terlebih lagi karena pendiriannya yang keras untuk tidak menjalin hubungan dengan Tarigan. Karena ia melihat Tarigan sering menenggak minuman keras dan juga bersifat kasar. Namun setelah Tarigan memikat Rebeka dengan sebuah ilmu pelet, Rebeka pun akhirnya jatuh hati kepadanya dan mulai sering memikirkan keberadaan Tarigan setiap hari. Ia meninggalkan kekasihnya dan menjalin hubungan dengan Tarigan.
Pernikahan Dengan Tarigan
Setelah berpacaran selama 3 bulan, Rebeka dan Tarigan memutuskan untuk menikah di tahun 1986. Istilah Bataknya, mereka dipasu-pasu di Medan. Di awal pernikahan mereka, sifat asli Tarigan mulai kelihatan. Ia sering bersikap kasar kepada istrinya, mabuk-mabukan dan bermain judi. Jika ada sesuatu yang membuatnya emosi maka ia akan melempar barang-barang yang ada di rumahnya dan selalu mengancam Rebeka dengan sebuah pisau parang.
Selain mempunyai ilmu pengasihan, Tarigan juga mempunyai ilmu untuk mengobati orang. Dia suka didatangi oleh orang-orang yang mau berobat kepadanya. Tetapi tidak jarang juga rumah mereka didatangi oleh orang-orang yang datang menagih hutang kepada Rebeka ketika Tarigan tidak pulang ke rumah. Mereka adalah pemilik lapo - warung tongkrongan orang Batak. Dengan terpaksa Rebeka pun harus menerima ancaman dari orang-orang tersebut sementara suaminya sendiri jarang pulang ke rumah.
Setelah anak pertama mereka lahir, perilaku Tarigan juga tidak berubah. Dia malah semakin berani bertindak kasar dan keributan di rumah tangga mereka selalu terjadi berulang-ulang. Tarigan tidak mempunyai tanggung jawab sebagai seorang suami dan bapak. Ia sering menghabiskan uangnya untuk berjudi sehingga terkadang anak dan istrinya sampai tidak bisa makan karena tidak memiliki uang sepeser pun.
Tidak tahan dengan keadaan rumah tangga yang penuh dengan kekerasan, Rebeka pun akhirnya memilih untuk bercerai dengan suaminya. Namun setelah perceraian tersebut, anak Rebeka mengalami sakit karena kerinduan kepada ayahnya. Tarigan datang menjenguk. Dan di hadapan Rebeka dan Tarigan, anak mereka berkata, "Mama sama bapak tidak boleh berpisah. Mama sama bapak harus bersatu seperti dulu." Mendengar ucapan anaknya yang sedang sakit membuat Rebeka memutuskan untuk tinggal kembali bersama Tarigan.
"Saya merasa bukan badan saya saja yang sakit, tetapi hati saya sangat sakit. Karena seakan-akan saya merasa saya adalah sapi perah suami saya. Tetapi terus terang untuk meninggalkan suami saya - saya sudah malu. Ada sekitar empat kali saya pergi berusaha tinggalkan suami dan balik kembali. Hingga saya bertekad, apa pun yang terjadi saya tidak akan meninggalkan suami saya lagi," kata Rebeka.
Pembantaian Sadis Di Sore Hari
Suatu hari di bulan Mei 1999, Rebeka berencana untuk pergi ke rumah orangtuanya di Dumai untuk bertemu dengan anak ketiganya dan adiknya yang sedang melahirkan. Tarigan tidak dapat ikut karena ia tidak memperoleh cuti dari tempat kerjanya.
Ketika hari menjelang sore, Rebeka meminta pertolongan seorang pria untuk mengambilkan buah kelapa di atas pohon kelapa di samping rumahnya. Pada saat ia mengucapkan terima kasih kepada pria itu, Tarigan datang sambil menatap Rebeka lalu menyuruh salah seorang anaknya untuk meminjam pisau parang kepada tetangganya. Sambil membereskan buah kelapa yang baru saja dipetik, Rebeka memperhatikan suaminya sedang mengasah pisau parang di depan rumah. "Saya melihat sesuatu yang sangat jahat ada di wajah suami saya. Seakan-akan Dia mau menelan saya. Tapi perasaan itu saya tepiskan jauh-jauh," kata Rebeka.
Setelah berkemas, jam 3 sore Rebeka dan kedua orang anaknya pergi meninggalkan rumah. Ketika hendak pergi, ia tidak menemukan Tarigan di dalam rumah. Akhirnya mereka pun pergi tanpa sempat berpamitan kepada Tarigan. Baru saja 100 meter pergi meninggalkan rumah, Rebeka menyuruh salah seorang anaknya untuk pulang mengganti alas kakinya dengan sepatu. Anak itu pun segera berlari menuju ke rumah, sementara Rebeka berjalan pelan bersama anaknya di tengah perkebunan kelapa sawit.
Di tengah perkebunan, terlihat Tarigan sedang duduk jongkok di bawah pohon. Hati Rebeka mulai merasa resah dan jantungnya berdetak tidak beraturan ketika langkah kakinya semakin mendekati Tarigan. Tarigan bangkit berdiri dan menghentikan perjalanan Rebeka. "Kamu bilang anak kita sakit karena saya. Tapi anak kita sakit gara-gara kamu!" bentak Tarigan. Lalu ia mengambil pisau parang yang ia selipkan di belakang celananya dan mengangkatnya tinggi-tinggi di depan Rebeka. Ia hendak membacok tubuh Rebeka, tapi Rebeka segera menangkis bacokan parang tersebut dengan tangan kanannya. Darah segar mengalir deras. Telapak tangan kanan Rebeka putus dan jatuh ke tanah. Rebeka merasakan tangannya mulai dingin dan ia terkejut melihat telapak tangan kanannya sudah berada di atas tanah. Sabetan pisau parang yang sangat tajam membuat Rebeka tidak menyadari tangannya sudah putus dalam sekejap mata. Ia berusaha lari sekuat tenaga namun ia terjatuh. Tarigan segera mengayunkan kembali parangnya dan kali ini mengenai kaki kanan Rebeka. Kaki Rebeka putus seketika itu juga diiringi kucuran darah segar dari bekas bacokan di kakinya.
Melihat darah sudah berceceran di mana-mana, Tarigan tetap tidak menghentikan aksinya. Ia terus menghujamkan parangnya ke tubuh Rebeka sehingga melukai beberapa anggota tubuh lainnya. Rebeka hanya bisa berteriak histeris di tanah sambil menangkis ayunan-ayunan pisau parang dari Tarigan dengan kaki kiri dan tangan kirinya. 3 jari di tangan kiri Rebeka putus. Kaki kirinya banyak mengalami luka sobek. Darah segar mulai membanjiri tanah di perkebunan yang sepi pada sore hari itu. Tarigan semakin liar dan membabi-buta mengayunkan pisau parangnya ke arah Rebeka.
Dalam keadaan terkapar dengan tubuh terluka, Rebeka dihampiri oleh anaknya. Ia tidak meninggalkan sang ibu ketika ayahnya sedang mencoba menghabisi nyawa Rebeka. "Mama, kenapa bisa begini," katanya sambil bersujud di dekat Rebeka dan memeluk kepala Rebeka di pangkuannya. "Nggak apa-apa nak, mama nggak apa-apa," jawab Rebeka. Lalu anak itu menangis menciumi Rebeka. Melihat anak dan istrinya menangis, Tarigan bangkit berdiri dan hendak menghabisi nyawa anaknya. Namun anaknya itu segera berlari. Tarigan tidak mengejar. Tarigan melemparkan pisau parangnya ke samping tubuh Rebeka dan mengambil dompet miliknya. "Pa, jangan pergi, jangan tinggalkan saya. Tolong saya, pa! Bawa saya ke rumah sakit, saya takut di sini," seru Rebeka sambil mengerang kesakitan. Tarigan menoleh dan menjawab, "Di situ sajalah kamu. Saya mau pergi ke kantor polisi." Ketika berjalan, Tarigan memungut potongan tangan kanan Rebeka yang putus. "Inilah kenang-kenangan terakhir dari saya," kata Tarigan sebelum ia melemparkan potongan tangan tersebut kepada Rebeka.
Masa Meregang Nyawa
Rebeka mulai merasakan dingin dari kaki menjalar ke seluruh tubuhnya. Hatinya tercabik-cabik melihat tindakan sang suami yang sekeji itu. Hembusan angin semakin menambah rasa sakit di tubuh Rebeka. Detik demi detik berlalu, Rebeka semakin takut akan kematian. "Tuhan tolong saya, saya tidak mau mati dengan cara seperti ini, saya masih punya anak-anak Tuhan, tolonglah saya," doa Rebeka dalam hati dalam keadaan setengah sadar. Selang beberapa waktu, Rebeka ditolong oleh tetangganya yang tak sengaja lewat di perkebunan. Awalnya ia sempat dikira sudah meninggal. Ia segera dilarikan ke rumah sakit untuk dioperasi. 4 bulan lamanya ia berada di rumah sakit untuk dirawat secara intensif.
Tarigan Dijatuhi Hukuman
Setelah keluar dari rumah sakit, Rebeka langsung menghadiri sidang suaminya. Keadaannya saat itu sangat memperihatinkan, sebab kini tangan dan kakinya buntung. Perasaan benci dan dendam kepada Tarigan menguasai hatinya. Tarigan dijatuhi hukuman 8 tahun penjara. Namun karena berkelakukan baik, pada akhirnya Tarigan dibebaskan setelah menjalani hukuman 4 tahun kurungan penjara.
Menjadi Orang Minder
Perasaan tidak berharga karena kondisi tubuh yang tidak normal lagi membuat Rebeka hidup dalam keminderan. Ia bahkan sempat mencoba untuk bunuh diri. Namun ketika melihat anak-anaknya, ia mengurungkan niat tersebut. Rasa dendam kepada sang suami tak kunjung usai. Ia pun menjadi trauma setiap kali melihat pisau parang dan laki-laki. Rebeka menjadi seorang pemarah dan sering putus asa dalam menjalani hidup.
Pengampunan Kepada Sang Suami
Pada suatu hari, seorang teman datang menemui Rebeka. Dalam pembicaraan mereka, ia meminta Rebeka untuk mengampuni suaminya. Ia mencoba mengingatkan Rebeka bahwa jika ia masih menyimpan dendam maka itu akan menjadi penghalang doa-doanya kepada Tuhan. Namun Rebeka tidak bisa menerimanya. Ia masih sangat membenci suaminya, terlebih ketika kejadian di perkebunan itu terulang kembali dalam ingatannya. Berkali-kali teman-teman Rebeka mencoba menasihatinya. Rebeka pun mulai berdoa. "Saya meminta agar Tuhan bekerja di hati saya dan memberikan roh kelembutan kepada saya," kata Rebeka.
Empat tahun setelah kejadian tragis tersebut, Rebeka mengambil keputusan tersulit yang akan mengubah seluruh kehidupannya. "Saya ingat firman Tuhan, saya harus mengampuni," kata Rebeka. "Sebab saya tahu, dibalik kejahatan yang dilakukan suami saya kepada saya, pernah juga saya menerima kebaikannya. Akhirnya saya bisa mengampuni. Ada sukacita di hati saya dan saya merasa hidup saya tenang. Lepas dari beban yang sangat berat."
Sembilan tahun kini sudah berlalu semenjak kejadian itu. Saat ini Rebeka menggunakan kaki palsu untuk membantu seluruh aktivitasnya. Bersama anak-anak tercintanya ia menjalani hidup yang bahagia. Hanya dengan mengampuni seluruh perbuatan suaminya, Rebeka terlepas dari sakit hati, dendam, kebencian dan kepedihan yang selama ini membelenggu hidupnya.
"Memang Tuhan itu sangat baik, Tuhan telah menyelamatkan saya dari kematian. Hingga walaupun keadaan saya cacat, tetapi sampai saat ini saya masih bisa bersukacita. Saya hanya bisa berharap dan berdoa agar suami saya bertobat dan Tuhan memberkati hidupnya dengan selalu memberikan yang terbaik kepadanya," kata Rebeka dengan tulus sepenuh hati sambil menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 14 September 2010 dalam acara Solusi di O'Channel).
Sumber Kesaksian :
Rebeka Kustiana Br. Tarigan
Video Rebeka lainnya :

Rabu, 01 September 2010

Meksiko Pecat Ribuan Polisi Untuk Kekang Korupsi

Meksiko Pecat Ribuan Polisi Untuk Kekang Korupsi

Mexico City (ANTARA/Reuters) - Pemerintah di Meksiko telah memecat hampir 10 persen dari pasukan polisi federal saat Presiden Felipe Calderon berusaha untuk mengendalikan kartel obat bius yang berpengaruh dan mengekang korupsi yang meluas d antara para polisi Meksiko.
"Karena mereka telah gagal melakukan tugas-tugas yang ditetapkan dalam undang-undang kepolisian federal, 3.200 polisi telah dipecat," kata Wakil Kepala Polisi Facundo Rosas pada satu konferensi pers.
Sebanyak 465 polisi yang lain, termasuk seorang kepala polisi di kota Ciudad Juarez yang keras di Meksiko utara, yang diserahkan pada pihak berwenang karena korupsi oleh stafnya sendiri, juga akan dipecat.
Seorang jurubicara polisi federal mengatakan beberapa dari mereka yang dipecat itu telah gagal dalam tes obat bius, lie detector atau visi atau telah ditemukan memiliki aset yang tidak dapat dipertanggungjawabkan oleh atasan.
Ia menolak mengomentari mengenai apa saja yang diduga korupsi polisi, keluhan umum di Meksiko, tempat polisi terkenal mendapat suap dan bahkan juga bekerja dengan kartel narkoba yang pemerintah berusaha perangi.
Sebelum pemecatan-pemecatan itu, ada sekitar 34.500 pejabat polisi federal.
Ketika Calderon memegang tampuk pemerintahan pada akhir 2006, ia telah mengerahkan lebih dari 50.000 tentara dan polisi federal karena pasukan polisi setempat telah gagal menghentikan kekerasan yang meningkat.
Lebih dari 28.000 orang telah tewas dalam kekerasan kartel obat bius sejak Calderon melancarkan perangnya terhadap narkoba, yang meningkatkan kekhawatiran bahwa pertumpahan darah itu dapat mengganggu pariwisata dan investasi saat Meksiko dengan lambat pulih dari resesi terburuknya sejak 1932.
Sejumlah orang yang diduga tukang pukul kartel obat bius telah membunuh walikota sebuah kota kecil di Meksiko utara pada akhir pekan lalu di negara bagian Tamaulipas. Di negara bagian itu, pekan lalu, dua bom mobil meledak dan mayat 72 pekerja migran yang dibunuh ditemukan.

Selasa, 17 Agustus 2010

Tokoh Agama di Inggris Menentang Keras 'Dokter Kematian'

Tokoh Agama di Inggris Menentang Keras 'Dokter Kematian'

detail_img

TUESDAY, 17 AUGUST 2010

Total View : 381 times

Dokter ini dipanggil dengan nama ‘Dokter Kematian’. Hal ini dikarenakan para pensiun yang berani mengungkapkan ‘cukup adalah cukup’ sehingga mereka memanggil sang dokter untuk mengakhiri hidup mereka. Dr. Michael Irwin mengatakan bahwa dia mengetahui bahwa wanita usia lanjut di Inggris banyak yang memutuskan untuk pergi ke Dignitas, ‘klinik bunuh diri’ Swiss karena mereka menderita artitis dan penglihatan yang jauh dari kurang. Sedikitnya sudah sembilan orang yang dia ‘tolong’ melalui program ini.
Dia percaya bahwa masih ada banyak orang yang ingin mengambil jalan yang sama seperti wanita tua di Inggris tersebut. Sebuah grup baru-baru ini mengambil poling dan sekitar 67 persen orang yang ditanya setuju bila orang yang sudah sangat renta dan kemungkinan mempunyai cacat mental dibolehkan untuk menerima bantuan dokter untuk meninggal, terutama jika mereka menderita penyakit yang mengganggu.
Hanya 19 persen yang menolak keputusan ini. Hal ini menyebabkan perpecahan. Beberapa tahun belakangan ini diadakan kampanye yang berfokus pada ‘hak’ untuk orang bisa meninggal karena penyakitnya sangat parah atau cacat mental baik di rumah mereka maupun di negara yang memperbolehkan hal tersebut. Mereka diberi dosis tinggi suatu obat yang dapat menyebabkan kematian mereka.
“Setelah delapan sampai sembilan decade, orang-orang bisa menentukan bahwa hidup mereka sudah cukup dan terlalu lama. SOARS (Society for Old Age Rational Suicide) sangat percaya bahwa ada banyak kaum senior yang akan memilih opsi seperti ini…” menurut laman website mereka.
Dr. Irwin, sebagai coordinator SOARS, memberitahu bahwa tahun ini dia tidak akan melakukan eksekusi meskipun dia mengakui dia telah membantu beberapa orang dengan mengambil nyawa mereka. Dia memberi tahu The Daily Telegraph minggu ini dia akan melakukan kontak dengan wanita Inggris yang telah memutuskan untuk bunuh diri karena penyakitnya.
Kampanye lainnya akan dilakukan oleh grup agama dan kemanusiaan yang menentang keras hak untuk mengambil nyawa seseorang hanya karena dia sudah terlalu tua ataupun mempunyai cacat mental atau berpenyakit. Mereka percaya bahwa masyarakat yang menyetujui mengambil nyawa orang lain merupakan tindakan yang benar adalah tanda bahwa mereka juga bisa bunuh diri sesuka hati mereka jika mereka ingin beban hidup mereka terangkat.

Source : telegraph/lh3

Sabtu, 14 Agustus 2010

KOIN LANGKAH

Koin Langka Berusia 2200 Tahun Ditemukan Di Israel

SATURDAY, 14 AUGUST 2010

Total View : 201 times

Para arkeolog di Israel mengatakan mereka telah menggali dan menemukan mata uang yang paling berharga yang pernah ditemukan di wilayah ini.
Mata uang yang diperkirakan berusia 2.200 tahun ini ditemukan di Tel Kedesh dekat perbatasan Libanon pada tanggal 22 Juni lalu.
Artefak ini beratnya hanya satu ons (28 grams), namun diperkirakan nilainya sekitar US$ 80,000.
“Koin ini setara dengan seratus uang perak di zaman kuno,” ujar Donald T. Ariel, kepala Departemen Koin dari Israel Antiquities Authority. “Nilainya pasti setara dengan setengah tahun atau setahun gaji dalam satu koin.”
Koin tersebut diyakini telah dicetak di Alexandria, Mesir, pada masa pemerintahan Ptolemeus V tahun 191 SM. Para arkeolog berspekulasi bahwa koin ini mungkin menunjukkan potret istri sang penguasa, Cleopatra I.
“Rakyat biasa tidak akan memiliki koin seperti ini – koin ini memiliki arti seremonial atau simbolik dan mungkin dimaksudkan untuk digunakan di sebuah kuil dan didedikasikan bagi Ratu Arsinoe,” ujar Ariel.
Barang kuno dari jangka waktu tersebut yang pernah ditemukan adalah berupa dua koin emas.

Source : cbn.com

Jumat, 13 Agustus 2010

KEPUTUSAN KITA BISA MENGUBAH MASALALU

8 Fakta tentang Bebe
Sabtu, 14 Agustus 2010 | 04:26 WIB
MANCHESTER, KOMPAS.com - Tanpa awalan, Manchester United (MU) tiba-tiba mengumumkan telah membeli penyerang Bebe dari Vitoria Guimaraes. Ini merupakann kejutan, karena transfer terjadi setelah Alex Ferguson mengaku puas dengan skuadnya dan tak membutuhkan tambahan lagi.

David Gill sudah menjelaskan, meski sudah memantau Bebe sejak lama, MU tak berniat membelinya di bursa transfer ini. Menurut Gill, ide membeli Bebe muncul mendadak dan tuntas hanya dalam waktu sepekan.

Menambahkan itu, Ferguson mengatakan, pembelian Bebe dipercepat karena ada banyak klub menginginkannya. Ia juga mengatakan, "Anda akan menemukan dongeng ketika membaca latar belakangnya. Namun, itu adalah hal yang biasa terjadi, ketika Anda mengidentifikasi potensi seseorang."

Mengingat Bebe bukan pemain yang tak banyak dikenal, seharusnya memang ada sesuatu yang istimewa darinya, sehingga MU memutuskan membelinya dari Vitoria de Guimaraes, klub yang baru dibela Bebe selama lima pekan.

Berikut adalah beberapa fakta tentang Bebe.
1. Bebe tumbuh di Panti Asuhan Casa do Gaiato de Santo Antao do Tojal. Panti asuhan ini menampung anak-anak yang orang tuanya tidak mampu.

Soal ini, Bebe mengatakan, "Aku lebih banyak hidup mandiri. Aku ingat malam-malam di mana aku tidur di jalanan. Ketika Aku melihat apa yang terjadi (bermain untuk MU), ini seperti Cinderella versi dunia olahraga. Semua pengorbanan terbukti tak sia-sia."

2. Bebe bernama asli Tiago Manuel Dias Correia. "Bebe" adalah panggilan kakaknya, yang kemudian diikuti teman-temannya dan itu terus melekat padanya sampai sekarang.

3. Bebe mengenal sepak bola di jalanan. Namun, ia pernah bermain untuk tim anak-anak bernama Loures . Ketika bermain di situlah bakat Bebe terendus Estrela da Amadora, yang kemudian merekrutnya.

4. Bebe bermain di Festival Sepak Bola Jalanan Eropa di Bosnia, 2009 lalu. Di sana, ia mewakili tim Organisasi Tunawisma CAIS dan mencetak 40 gol dari enam pertandingan, lebih tinggi bahkan dari akumulasi gol tim mana pun.

5. Lima pekan lalu, Estrela da Amadora tak mampu membayarnya. Ia kemudian bergabung Vitoria Guimaraes dalam status bebas transfer dan terikat kontrak lima musim dengan klausul pemutusan kontrak bernilai sembilan juta euro.

MU kemudian membeli pemain yang cuma berpengalaman tampil di Divisi Tiga dan beberapa laga persahabatan Guimaraes dan tak bisa berbahasa Inggris ini dengan harga sekitar tujuh juta poundsterling.

6. Ferguson membeli Bebe atas rekomendasi mantan asistennya yang kini menjadi manajer Portugal, Carlos Queiroz. Ferguson ingin menunda pembelian Bebe sampai setidaknya musim depan, tetap pergerakan Real Madrid membuatnya mempercepat rencana pembelian.

Ferguson sama sekali tak bertemu langsung dengan Bebe sampai awal pekan ini.

7. Secara umum, Bebe masih mentah. Namun, ia memiliki beberapa kemampuan dasar menonjol, misalnya mampu berlari cepat, bertendangan kaki kanan bagus, dan bertinggi 1,8 meter. Ia mampu bermain di sektor sayap kiri maupun kanan, di tengah maupun di depan.

Menurut pelatih Estrela de Amadora, Bebe adalah "Pemain yang merupakan buah sepak bola jalanan. Ia belajar di jalanan dan memiliki kreativitas alami, ketidaksopanan, dan semua itu membuatnya berbeda."

8. Karena berusia di bawah 21 tahun, ia bukan masalah bagi MU yang terbebani peraturan Premier League tentang skuad berjumlah 25 pemain. Dengan Danny Welbeck dan Mame Biram Diouf dipinjamkan ke klub lain, Bebe mungkin akan mendapatkan kesempatan bermain. Ajang Piala Carling bisa menjadi arena Bebe unjuk gigi. (DM)

Selasa, 03 Agustus 2010

Astronom China: UFO Akan Datang pada 2011
VIVAnews
By Elin Yunita Kristanti - Rabu, 4 Agustus


[Tampilan UFO di film Independence Day] Tampilan UFO di film Independence Day

VIVAnews - Astronom China, Wang Sichao memprediksi kedatangan mahluk luar angkasa atau unidentified flying object (UFO) dalam dua tahun, 2011 atau 2012.

Wang yang juga ahli planet-planet kecil mengeluarkan spekulasi ini pasca beberapa laporan penampakan UFO atau benda aneh di langit beberapa wilayah di China seperti Zhejiang, Hunan, Chongqing dan Xinjiang sejak bulan lalu.

Pernyataan Wang didasarkan fakta bahwa, "Keberadaan 2,5 miliar planet -- termasuk di Galaksi Bimasakti, sangat mungkin ada kehidupan dan peradaban berteknologi di sana."

"Antara Bumi dan peradaban luar angkasa itu baru dalam tahap pendekatan primer," tambah Wang.

Pernyataan astrofisikawan ternama, Stephen Hawking April lalu bahwa kedatangan Alien akan berdampak buruk bagi manusia dibantah Wang. Kata dia, masih terlalu dini untuk membuat kesimpulan.

Wang mendesak para ilmuwan untuk merancang dan membuat teleskop berteknologi lebih maju -- untuk mengamati benda terbang aneh yang muncul tiba-tiba. Kadang hanya dalam hitungan detik.

China pernah dihebohkan oleh penampakan benda misterius Rabu 7 Juli 2010 malam. Penampakan cahaya terang itu bahkan sempat mengganggu penerbangan. Benda itu diduga UFO.

Bandar Udara Xiaoshan di Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang, China, sempat ditutup selama beberapa jam.

Belum dipastikan apa sebenarnya benda tersebut, namun Pakar senjata MIT, Geoffrey Forden mengatakan benda bercahaya itu diduga misil balistik China. Sementara, para ahli China menyimpulkan itu pesawat terbang biasa.

Sebelumnya, pada Minggu 18 April 2010 malam, penampakan benda misterius terang benderang terlihat di Chengdu.

Benda terang itu sempat berhenti, menggantung di udara selama beberapa menit. Lalu, tiba-tiba ia bergerak dengan kecepatan lebih lambat dari pesawat udara biasa. Sekitar pukul 20.51. kata saksi mata, Zhang, benda itu menghilang.

TEMPAT PEMULIHAN

Thomas Selan

Pengantar:
Ketika terdampar di Jakarta, usia Thomas masih muda. Dan, seperti anak-anak muda pendatang lainnya dia pun mempunyai cita-cita untuk meraih hidup sukses di kota ini. Namun, ketika melihat kenyataan bahwa banyak penghuni kota ini yang mencoba bertahan hidup, antara lain dari mengais-ngais sampah, dan tidur di emperan dan kolong jembatan, atau tinggal di bilik-bilik kumuh dekat tempat pembuangan sampah, sementara anak-anak mereka berkeliaran, tidak bersekolah, maka dia merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu untuk mereka. Dengan semangat dan kegigihannya, dia mengumpulkan anak-anak dari para pemulung dan orang-orang miskin, untuk belajar. Dia juga menjadi pembimbing, penasihat, dan penyemangat bagi mereka yang telah berusia lanjut dalam menjalani sisa-sisa hidup mereka. Bahkan, dia kemudian mencari dan mengumpulkan anak-anak muda yang terganggu jiwanya, dan hidup berkeliaran. Dia sendiri yang merawat mereka, sampai mereka pulih kembali.

Thomas Selan(36 tahun)
Lahir : 9 Maret 1972 di di So'e, Timor-Kupang.
Pada usia 15 tahun Thomas ikut kakaknya ke Pontianak, Kalbar. Di sana setamat SMA, dia mencoba ikut UMPTN, tapi tidak lulus. Dia lalu bekerja di perusahaan Barito Pacific Timber.
Setelah merasa mempunyai uang cukup, dia ingin kembali dulu ke Timor via jakarta. Ketika tiba di Jakarta, dia bertemu kawan yang menawarkan dia untuk bekerja di Jakarta saja. Dia lalu bekerja sebagai Satpam yang bertugas pada malam hari. Ketika bekerja sebagai Satpam, dia terkesan pada temannya, yang bekerja sebagai petugas kebersihan,.yang giat melakukan pelayanan rohani (Kristen).
Akhirnya Thomas dan seorang temannya, Abraham, memutuskan untuk melakukan tugas pelayanan dalam bentuk lain. Mereka mengamen pada siang hari, di bus-bus kota. Hasil mereka mengamen itu, bukan digunakan untuk keperluan mereka sendiri tapi justru mereka belikan beras, tempe, tahu, dan sebagainya, kemudian mereka masak dan membungkusnya sendiri menjadi beberapa bungkus, lalu mereka antarkan sendiri untuk dibagi-bagikan kepada para orang miskin, terlantar, yang tidur di emperan atau di kolong jembatan.
Pada suatu saat temannya berangkat ke Manado, untuk melayani para pengungsi yang datang dari Maluku, ketika terjadi krisis horisontal di sana, maka dia memutuskan untuk melakukan pelayanan sendiri. Di dekat tempat tinggalnya itu ada tempat pembuangan sampah. Dia mengumpulkan enam orang anak (yang orang tuanya menjadi pemulung). untuk belajar membaca dan menulis. Thomas sendiri yang bertindak sebagai guru. Tiga bulan kemudian anak didiknya menjadi 80 orang anak. Melihat minat anak-anak di sekitar tempat tinggalnya yang semakin bertambah, maka dengan bantuan dari sebuah yayasan dia mendirikan taman kanak-kanak, khusus untuk anak anak-anak para pemulung dan penduduk miskin di sekitarnya. Di samping itu, dia juga membuka kegiatan bimbingan belajar. Saat itu anak-anak yang belajar mencapai 200 anak. Semua peralatan belajar, dia usahakan sendiri. Kegiatan ini dilakukan pada hari Sabtu. Untuk mengajar sekian banyaknya murid, dia dibantu oleh para sukarelawan lainnya, yang pada hari-hari biasa merupakan karyawan-karyawan swasta.



Ketika sedang mengajar anak-anak itu, suatu ketika Thomas didatangi oleh beberapa orang lanjut usia (Lansia) yang memintanya untuk membimbing/melayani mereka juga. Kini jumlah para Lansia yang berada di bawah bimbingannya telah menjadi 150 orang. Setiap Senin dia melayani para Lansia ini di Gereja Salvatore, Sunter. Para Lansia ini umumnya bekerja sebagai pemulung. Jika antara mereka ada yang sakit maka Thomas akan mengusahakan agar mereka bisa memperoleh perawattan dan pengobatan. Dan jika ada yang meninggal, maka Thomas akan mengusahakan agar bisa dimakamkan dengan layak.
Pada suatu saat dia berkunjung ke suatu daerah kumuh.di Warakas, Jakarta Utara. Di sana dia menemukan seorang gila, bernama Usman. Menurut penduduk sekitar situ, Usman sudah sembilan tahun.berada di situ. Badannya sangat kotor, rambutnya yang panjang sampai punggung., sudah menyatu keras, karena tak pernah dicuci.Usman ini lalu dibawa ke rumahnya, lalu dicukur rambutnya sampai gundul, dimandikan dengan memakai rinso dan sabun colek. Satu minggu baru badannya benar-benar bersih.
Usman dirawat dan didoakan oleh Thomas sendiri. Setelah tiga bulan, ingatan Usman mulai pullih. Dia menceritakan bahwa dia menjadi seperti itu karena istrinya selingkuh dengan pria lain.
Ketika Usman diajak untuk berekreasi ke kebun-binatang (menggunakan kereta api), dia tidak mau turun dari kereta walaupun sudah sampai. Akhirnya dia terbawa kereta, dan sampai sekarang tidak ada kabarnya lagi.
Thomas lalu mengangkat satu anak gila lainnya, Rendi. Sekarang jumlah mereka sudah 24 orang. 14 orang bisa normal kembali dan bekerja, dua sedang pulang ke kampungnya, dan yang tinggal ada delapan orang.

Kini, sejak satu setengah tahun yang lalu, Thomas telah memperoleh tempat sebagai pusat kegiatannya, yaitu di wilayah Sunter. Di tempat ini, dia telah membangun sebuah rumah, tempat dia, isterinya, dan seorang anaknya tingggal. Rumah ini tadinya sekaligus juga sebagai tempatnya melakukan beberapa kegiatan, dan tempat berkumpul/tinggal anak-anak yang terganggu pikirannya. Namun, belum lama ini, ada seorang ibu, yang bersimpati terhadap usaha-usaha kemanusiaan yang dilakukan Thomas, telah menyumbangkan sebuah bangunan 6 x 12 m, di sebelah rumah tinggalnya. Di bangunan yang baru inilah kini Thomas melakukan berbagai kegiatan, seperti kebaktian, mengasuh anak-anak muda yang terganggu syarafnya.

Kemudian, juga ada yang menyumbang uang, yang oleh Thomas dimanfaatkan untuk membangun sebuah bangunan sederhana yang dijadikan semacam warung untuk menjual kebutuhan sehari-hari.

Thomas sampai saat ini terus menjalankan semua kegiatan manusiawi ini. Dan dalam menjalankan kegiatannya dia menyerahkan segala sesuatunya hanya kepada Tuhan. Dia senantiasa berdoa, agar diberi kekuatan untuk terus mencari dan menemukan mereka yang merasa terbuang dan kehilangan masa depan, dan membantu mereka untuk memperoleh kembali semangat hidup, dan harapan untuk bisa hidup layak.

Monday, June 9, 2008


Euro 2008

Dibakar Oleh Dendam, Dibalut Dengan Kasih

Dibakar Oleh Dendam, Dibalut Dengan Kasih

TUESDAY, 03 AUGUST 2010

Total View : 1538 times

Karena pergaulan buruk dengan teman-teman ganknya, perkelahian, narkoba dan minuman keras menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Odi Manaroisong sejak masih remaja.
"Ketika saya minum arkohol, bawaan saya itu sudah lain. Kadang-kadang bukan masalah saya, bukan urusan saya, bisa buat saya emosi. Saya tidak mau teman satu gank saya di pukul oleh orang. Tidak perduli teman saya yang salah atau orang yang salah, saya akan berusaha tampil menjadi pahlawan. Hal ini saya lakukan supaya mereka tahu siapa saya."
Perkelahian demi perkelahian di jalani Odi dan ganknya demi pembuktian bahwa diri mereka hebat. Namun semua itu tidak bisa memuaskan hasrat Odi, dia ingin lebih lagi melakukan pembuktian dengan merantau ke Jakarta.
"Rasa ingin tahu saya begitu besar. Dan menurut saya kalau belum merantau ke Jakarta, bukan laki-laki Manado. Saya merasa kampungan banget kalau jadi preman tapi cuma preman di kampung," tutur Odi.
Sesampainya di Jakarta, Odi tinggal di rumah saudara teman satu ganknya yang ternyata adalah pengedar narkoba. Hal itu membuat hidup Odi lebih hancur.
"Kalau malam, banyak anak-anak yang datang ke rumah itu. Ternyata rumah itu adalah markas. Di rumah itulah saya baru mengenal yang namanya gele, dan ganja. Bukan hanya pemakai saja, saya juga disuruh-suruh antar barang kesana-sini. Hal itu membuat pola pikir saya berubah, kehidupan yang penting adalah senang. Kalau sudah bosan dengan gele, dengan minuman, dengan arkohol, maka yang selanjutnya adalah wanita."
Namun selama menjalani kehidupan kelamnya di Jakarta, Odi mulai berpikir dan rindu akan kedua orangtuanya.
"Ketika saya sendirian, saya jadi rindu orang tua, rindu kampung. Kenikmataan sesaat itu tidak bisa memuaskan saya. Pada waktu saya diam, di situ ada bisikan-bisikan di hati. Saya berusaha mengabaikannya, tapi akhirnya saya putuskan untuk pulang saja."
Odi pun kembali ke kampung halamannya, dan kembali bergaul dengan teman-temannya sesama preman. Hingga suatu malam, suatu peristiwa terjadi.
"Saya dengan teman-teman sedang di kedai minum, kami minum di sebuah meja, dan ada kelompok lain yang sedang minum juga di meja yang lain. Mereka termasuk preman-preman yang di segani di kampung. Karena kami tidak bergabung dengan mereka, kami di bilang sombong. Saya sangat tidak suka mendengar hal tersebut."
Sewaktu Odi keluar dari kedai untuk buang air kecil, salah seorang dari kelompok tersebut mengikutinya keluar. Setelah adu mulut sebentar, mereka akhirnya berduel. Pria itu membawa sebuah pisau, sedangkan Odi hanya membawa botol yang telah dipecahkan.
"Dia mau menusuk saya dengan pisau, saya menghindar. Dalam perkelahian tersebut hanya tangan saya saja yang terluka, sedang pisau orang itu terlepas. Saya duduki perut dia, dan hanya melukai orang tersebut."
Namun perkelahian Tersebut tidak berakhir disitu saja. Ternyata orang yang dilukai oleh Odi menyimpan dendam kesumat kepadanya. Tak pernah disangka oleh Odi, preman tersebut melakukan pembalasan dengan membunuh kakaknya, yang juga seorang preman juga.
"Saya pikir cuma tertusuk pisau saja, hal itu sudah biasa. Namun saya mendapat berita bahwa dia sudah mati. Saya stres sekali. Saya merasa, teman saja kalau di pukul orang saya bela mati-matian, tapi kakak saya sendiri saya tak bisa lakukan apapun."
Hal ini membuat Odi sangat terluka, dia merasa sangat sakit hati terhadap orang tersebut sehingga membuatnya merencanakan sesuatu yang sangat jahat terhadap orang tersebut.
"Saya rasa kebencian, akar pahit dan sangat ingin balas dendam. Kalau saya bertemu dengan orang tersebut, saya tidak akan membunuhnya, saya akan membuat orang itu cacat seumur hidup. Saya membuat janji tersebut di depan kuburan kakak saya."
Waktu berlalu namun kenangan pahit itu masih membekas di hatinya. Hingga suatu hari Odi melihat orang yang membunuh kakaknya. Orang tersebut hanya beberapa belas meter di depannya.
"Sewaktu saya melihat dia, saya ingat kembali komitmen saya di depan kubur kakak saya untuk membalas dendam pada orang itu. Saya jadi seperti orang kerasukan. Orang tersebut hanya berada sekitar dua puluh atau lima belas meter saja."
Namun ada sesuatu yang menahan Odi untuk melakukan pembalasan kepada orang tersebut. Dua tahun sebelumnya, sebuah perjumpaan yang mengubahkan di alami oleh Odi.
"Saya waktu itu dalam keadaan mabuk, dan melewati sebuah gereja kecil. Didalam gereja tersebut sedang berlangsung sebuah ibadah, namun saya hanya duduk-duduk diluar. Ada sebuah lagu dilantunkan dan saya menikmatinya dari luar. Lagu tersebut sangat menyentuh hati saya. Dikatakan ‘dipintu hatimu Tuhan memanggil'. Secara spontan saya menangis, dan saya merasakan sesuatu yang lain. Kok ada sukacita, kok ada sesuatu yang lain yang tidak pernah saya dapatkan di tempat lain."
Sentuhan tangan Tuhan di hari itu, membuatnya terus bertanya-tanya. Odi akhirnya menceritakan pengalamannya kepada seorang saudaranya. Dan dia dibimbing untuk melepaskan pengampunan kepada orang yang sudah membunuh kakaknya.
"Saya diminta mengampuni orang yang telah membunuh kakak saya, dengan menyebutkan namanya. Saya katakan, saya tidak mampu mengampuni. Namun saudara saya membimbing saya, ‘katakan bahwa kamu mau...' Dia rangkul saya, dia doakan saya, dia putuskan semua dendam dalam hidup saya, dan saya katakan, Tuhan ini hidup saya."
Kembali pada perjumpaan Odi dengan pembunuh kakaknya. Pada saat segala kenangan masa lalunya muncul dan membakar hatinya kembali dengan kemarahan, sebuah suara lembut berkata kepadanya.
"Bukankah Aku telah mengasihi engkau? Bukankah Aku telah menebus engkau? Bukankah engkau sudah mengampuni dia?"
Suara lembut itu terus mengetuk hatinya.
"Saat itu saya katakan, ‘Tuhan, aku tidak mampu dengan kekuatanku.'"
Odi menegur orang tersebut dari belakang, dan orang tersebut sangat ketakutan.
"Saya menyentuh punggungnya dari belakang dan menanyakan kabarnya. Namun dia sangat ketakutan, dia pikir saya menikamnya dari belakang. Dia terus menghindar ketika saya mengajaknya untuk berbincang, dan akhirnya pergi."
Hari itu, jamahan Tuhan telah membuat Odi menang dari dendam yang telah menumpuk di hatinya selama bertahun-tahun. Dan Odipun dengan kasih Tuhan, sudah melepaskan pengampunan kepada sang pembunuh kakaknya. Pemulihan dalam diri Odi terus berlangsung, dan dia menjadi pribadi yang baru.
"Tuhan itu sangat baik, Tuhan sangat peduli dengan kita. Apapun latar belakang hidup kita, apapun dosa yang pernah kita lakukan. Saya pernah merasa tertolak, merasa minder, merasa tidak ada nilainya, saya penuh kebencian, saya penuh dendam, tapi saya anggap sampah semua yang pernah saya lakukan di masa lalu. Dan sekarang saya merasa bangga memiliki Kristus, karena Dia telah memberikan semangat dan motivasi kepada saya bahkan memberikan keselamatan kekal menjadi bagian hidup saya."
(Kisah ini ditayangkan 3 Agustus 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel)
Sumber Kesaksian:
Odi Manaroisong

YUSAK

Abbalove Yusak " Yang diUtus menjadi SAksi Kristus "

"Orang-orang yang sederhana tetapi melakukan hal-hal yang Luar Biasa..."

Dipilih dari yang lemah
tuk menguatkan orang yang lemah
dipilh dari yang kecil
Tuk melakukan perkara yang Besar

Yusak.. Yusak...

Dipilih dari yang Gelap
Tuk menerangi hidup yang gelap
Dipilih dari suku bangsa
Tuk memulihkan suku-suku Bangsa

S'bab Firman yang kau tabur
Takan kembali percuma
S'bab Tanah yang kau injak
Kan menjadi milik Bapa..

" Yang diUtuS bAgi Kristus" Y U S A K.